Urban Farming, Inspirasi dari Kelurahan Cisaranten Kidul

14/07/2015 Destinasianews
 

Destinasianews - Urban Farming! Sepertinya bagi Kota Bandung sudah bukan lagi merupakan “demam sesaat”, tapi sudah menjadi keharusan. Hal ini mengingat semakin dibutuhkan upaya penyelamatan lingkungan dengan pengelolaan “lahan tidur” baik di lahan milik pemerintah maupun di halaman-halaman rumah warga. Uniknya, urban farming ini bisa menjadi rantai produksi, proses hingga menjual “makanan” untuk memenuhi kebutuhan konsumen perkotaan.

Seperti yang bisa kita lihat di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebagé, Kota Bandung. Di sebuah lahan seluas seribu meter persegi kita bisa melihat banyak ditumbuhi aneka tanaman yang dapat dijadikan konsumsi seperti tomat, letus, pokcay, kangkung, melon hingga singkong dan jagung. Lahan itu sebetulnya disediakan untuk pembangunan kantor kelurahan, namun sambil menunggu jadwal pembangunannya di beberapa bagian yang tidak akan terkena bangunan, dimanfaatkan untuk urban farming. Lahan yang berlokasi di Jalan Riung Permai XII itu nampak hijau, tidak seperti layaknya kavling yang dipenuhi brangkal.

Iya, brangkal! Namun keinginan Akbar Wahyudi yang menjadi Ketua PKK di kelurahan itu tidak terhalangi karenanya. Lahan itu disulap menjadi percontohan urban farming lengkap dengan sarana persemaian, saung dan sumur. Unik juga sumurnya. Permukaan airnya tak lebih dari 2 meter sehingga mudah menyeduknya tanpa perlu pompa atau timba, padahal saat ini di tengah musim kemarau. Sedangkan instalasi untuk mengolah pupuk organik tengah dirancang pula. Adapun sosialisasi tentang urban farming di Cisaranten Kidul sebetulnya sudah dimulai sejak dilangsungkannya pelatihan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung di tahun 2013.

Ciskid 7Menurut Akbar, urban farming yang dikembangkan disini agak berbeda. Tanaman yang dikembangkan diselaraskan dengan program Pemerintah Kota Bandung, seperti keberadaan canangan one day no rice. “Kami menanam pula pohon jagung dan singkong sebagai pengganti nasi,” ujarnya. Selain itu, yang lebih khusus disini adalah keterpaduan dengan program “Cooking Center” untuk mengantisipasi keberadaan balita yang menderita kekurangan gizi. Cooking Center menyediakan makanan pokok maupun makanan tambahan yang kemudian didistribusikan kepada yang membutuhkan dengan menggunakan “Omaba”, singkatan dari Ojeg Makanan Balita. "Sekarang kita sediakan pula bahannya dari kebun ini."

Upaya ini tak urung membuat Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Ir. Hj. Elly Wasliah tertarik untuk mengunjunginya, Selasa (14/07/15). Dalam kunjungannya tersebut Elly Waliah nampak kagum seolah tiada henti mengomentari setiap obyek dan tanaman yang dilihatnya. “Ini lettuce ya… Bagus sekali. Parianya juga…” Antusiasnya tak urung membuat nya ikut memetik beberapa buah tomat, paria serta pokcay yang sudah siap panen. Sambil terus memperhatikan tanaman demi tanaman Elly mengajak Lurah Cisaranten Kidul Henny Mustikasari, S.STP untuk ikut serta dalam pameran ketahanan pangan yang akan segeran digelar di Bandung. Yang juga menggembirakan, Elly dalam kesempatan itu menyerahkan satu unit media tanaman hidropinik yang siap pakai, lengkap dengan tanaman kangkung dan bayam serta nutrisinya. Ada lagi, Elly juga menjanjikan akan membangun “screen house” (mungkin juga green house) di lahan tersebut. “Asal jangan di lokasi yang bisa terkena bangunan lain,” kata Elly.

Tentu saja itikad Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung ini disambut baik oleh Henny yang juga dikenal warganya sebagai Lurah penggemar tanaman dan rajin bercocok tanam. Kelak, dari kawasan ini akan muncul lagi inspirasi bagi warga Kota Bandung bagaimana memanfaatkan lahan tidur menjadi produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. (ar/dtn)