Cerita Kastuba Gantung di Trotoar Kota Bandung

24/05/2017 Nanang Zulkarnaen Mahasiswa program Ecological Geography Nanjing Normal University, China. CNN Student
 

Ilustrasi bunga kastuba. (Foto: Kaboompics)

Bandung, CNN Indonesia -- Jurnal Procedia - Social and Behavioral Sciences volume 184 Tahun 2015 memuat karya tulis Adiwan Aritenang. Paper yang dimuat pada halaman 40 sampai dengan 45 ini diberi judul Transfer Policy on Creative City: The Case of Bandung, Indonesia. Dalam bagian pendahuluannya, Adiwan Aritenang menyebut bahwa Kota Bandung telah di pilih British Council (BC) atas reputasinya sebagai kota kreatif dan kota budaya semenjak masa kolonial. 

Pada tahun 2007, BC telah menginisiasi program industri dan ekonomi kreatif yang diselenggarakan di tiga kota yakni Bandung, Solo dan Jogjakarta. BC juga menggulirkan program Indonesia Young Creative Entrepreneur (IYCE). Pada kompetisi tahun 2007, tiga pemenang program yakni Ridwan Kamil, Fikri Satari dan Gustaff bersama BC kemudian berkolaborasi dengan pemerintah setempat untuk membentuk BCCF (Bandung Creative City Forum). 

Ridwan Kamil yang populer dengan julukan Kang Emil, seorang arsitek dan dosen di SAPPK ITB, belakangan terpilih menjadi Walikota Bandung pada tanggal 23 Juni 2013. 

Menjabat Walikota, Kang emil mewarnai pembangunan kota dengan kreativitas yang melekat padanya. Salah satu yang sangat drastis perubahannya adalah trotoar yang ditata menjadi lebih lebar, ditambahi fasilitas kursi, dan dipercantik dengan bunga dalam pot di sekitarnya. 

Masyarakat merasakan manfaatnya. Bukan saja yang berdomisili di kota Bandung, keadaan trotoar yang nyaman ini juga telah mengundang penduduk luar Bandung. 

Teman lama saya, sengaja datang dari Tasikmalaya hanya untuk berfoto dengan menikmati secangkir kopi sambil duduk di kursi di trotoar Jalan Merdeka. Pada Tanggal 12 Pebruari 2017 seorang warga Bandung bernama Rionita Amir, yang juga adalah dosen penulis, menceritakan pengalaman di halaman Facebook-nya setelah menikmati jalur trotoar dengan berjalan kaki dari simpang Dago sampai Museum Geologi. 

Atas pengalaman yang menyenangkan tersebut beliau mengucapkan terimakasih kepada Kang Emil atas upayanya membuat ruang publik yang nyaman bagi kehidupan masyarakat Bandung. Di akhir komentar yang juga memuat beberapa photo tersebut, Bu Nico demikian wanita ini biasa kami panggil, menambahkan bahwa di mata WNA yang sudah mukim 29 tahun di Bandung, wajah kota baru benar-benar berubah secara drastis pada beberapa tahun terakhir ini. 

Bu Nico bahkan menyebut birokrasi pemkot dan instansinya juga sangat jauh lebih baik. Hemat penulis, pengaruh positif walikota memang dirasakan para birokrat dan citranya selalu diupayakan tetap terjaga dengan cara menghadirkan inovasi dalam bekerja sambil terus mengoptimalkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) di instansinya masing-masing. 

Kastuba Gantung
Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung adalah salah satu instansi yang turut berkontribusi menyumbangkan inovasi terhadap semakin cantiknya trotoar Kota Bandung. Jika anda mau menyusuri trotoar jalan Dago, Jalan Merdeka atau Jalan Martadinata akan dijumpai bunga-bunga berwarna merah menyala yang digantung pada pohon-pohon pelindung atau pada penyangga lampu penerang jalan umum. 

Itulah kastuba gantung. Sampai pada bentuknya yang sekarang ini, penyajiannya telah melalui percobaan yang cukup panjang. Dan menurut hemat penulis, hal ini dilakukan sepenuh hati atas bimbingan kepemimpinan yang kuat sang kepala dinas. 

Bunga gantung merupakan buah tangan dari Kepala Dinas setelah beliau melakukan perjalanan dinas luar ke negeri Thailand. Mulanya bunga gantung diujicobakan di sekitar kantor di Jalan Arjuna Nomor 45 di akhir tahun 2014. Halaman kantor yang telah dibangun sejak masa kolonial ini memang memiliki beberapa pohon besar sehingga ketika dicoba diadaptasikan mengundang decak kagum para tamu yang berkunjung. 

Banyak orang berfoto di bawah bunga gantung di kantor ini, termasuk penulis. Pada waktu itu jenis tanamannya pun masih spesies lain, tanaman berbunga. Setelah juga diujicoba di halaman kantor lainnya mulailah bunga gantung ini di pasang di trotoar jalan dengan jenis tanaman kastuba (Euphorbia pulcherrima L. (Willd. ex Klotzsch)) yang populer disebut Poinsettia

Alat Siram Bunga Gantung 
Pemasangan bunga gantung kastuba di trotoar jalan kota Bandung semakin ajeg. Dalam prosesnya disiapkan pula petugas dan kendaraan khusus untuk menyiram tanaman setelah untuk sekian lama menggunakan kendaraan dinas yang ada, yang bukan saja tidak ergonomis tapi juga fungsinya yang tidak maksimal. 

Dengan alat yang baru semakin meneguhkan interkoneksi sosio-teknis yang semakin mantap. Di samping penyiraman berkala, kastuba yang hanya kuat hidup dalam pot gantung selama maksimal dua bulan, dalam pemeliharaannya selalu dilakukan replanting sehingga kesegaran tanaman tetap dapat dipertahankan dan enak dipandang pengguna jalan. 

Menariknya sependek pengetahuan penulis, pemasangan kastuba gantung yang baru pertama kali diadaptasi di kota Bandung bahkan di Indonesia ini mulanya bukan merupakan tugas pokok fungsi Dinas Pangan dan Pertanian. Banyak tugas pokok lain yang secara simultan selalu diupayakan kuantitas dan kualitasnya seperti soal ketahanan dan keamanan pangan; tanaman pangan dan hortikultura; peternakan; perikanan; serta kerjasama, penyuluhan, dan pemberdayaan. 

Tapi karena semua itu dilakukan dengan keyakinan penuh di bawah bimbingan kepala dinas berkarakter kuat yang kebetulan seorang wanita, maka dapat dikatakan bahwa inovasi dalam melakukan pekerjaan sehari-hari para birokrat ini sungguh sangat mencengangkan. 

Dalam kerangka besarnya, boleh jadi fenomena yang terjadi, dipacu oleh hadirnya sosok walikota yang inovatif. Sebagaimana maklum sebelum menjadi walikota, Kang Emil adalah pelopor Indonesia Berkebun. Kegiatan yang nyaris menjadi core bisnisnya Dinas Pangan dan Pertanian. 

Menariknya Bandung Berkebun pun juga menuai sukses. Kelurahan Pajajaran misalnya menjadi salah satu contoh wilayah yang banyak diberitakan surat kabar atas suksesnya kegiatan urban farming. Aura positif itu menjalar, melebihi harapan. Dari pimpinan daerah ke pimpinan instansi yang lalu ke pimpinan wilayah.

Cerita pembangunan kota dan proses mengadaptasikan kastuba gantung di kota Bandung ini, penulis sampaikan di depan dosen dan mahasiswa School of Geography Nanjing Normal University di China, untuk mata kuliah Human Geography. 

Nanang Zulkarnaen
Mahasiswa program Ecological Geography Nanjing Normal University, China.(ded/ded)