BERKEBUN DI ATAS SUNGAI

09/03/2017 Muhamad Fajar Ramadhan/Trubus 568-Maret 2017/XLVIII
 

TAK ADA LAHAN, MEREKA PUN BERCOCOK TANAM DI ATAS SUNGAI

Sungai Cilimus selebar 5 meter itu kini asri. Ribuan tanaman tumbuh subur dalam polibag. Kantong-kantong tanam itu tertata rapi di atas sungai. Di sana juga tumbuh aneka jenis sayuran

seperti brokoli, bawang daun, cabai rawit, dan buternut squash. Di atas sungai? Warga di sekitar sungai itu memang meletakkan batang bambu yang membentang seperti jembatan. Di atas “jembatan” itulah mereka bercocok tanam.  Pemandangan itu berbeda 1800 sebelum 2011. Kawasan pemukiman warga di bantaran Sungai Cilimus itu sangat kotor akibat sampah yang berserakan. “Dulu air sungainya juga kotor, kerap mengeluarkan bau busuk, dan pemandangannya tidak enak dilihat,” kata Ketua Rukun Warga (RW) 04 Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat, Aiptu Wawan Setiawan.

Juara

Pada 2011 berlangsung program penghijauan di Kota Bandung. Wawan dan warganya merapikan bantaran sungai sepanjang 400 meter dengan menanam aneka tanaman hias, seperti bonsai dan euphorbia. Jerih payah Wawan dan warganya berbuah manis. Pada 2012 wilayah RW 04 Kelurahan Pajajaran terpilih menjadi juara lomba penghijauan dan kebersihan tingkat Kecamatan Cicendo. “Sejak menjuarai lomba green and cleantingkat kecamatan, para warga makin antusias untuk aktif dalam kegiatan penghijauan,” katanya. Pada 2013 Walikota Bandung, Ridwan Kamil ST MUD, mencanangkan kegiatan pertanian perkotaan di setiap kelurahan. Dalam program itu Wawan mendapat bantuan 500 tanaman aneka jenis sayuran dalam polibag. “Cabai dan bawang daun yang dominan, tapi ada juga tomat,” kata Wawan.  Namun, pria yang masih aktif sebagai anggota polisi di Kepolisian Sektor Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, itu bingung menempatkan ratusan polibag tanaman sayuran. Itu karena lokasi warga di kawasan bantaran sungai. Wawan lalu menyusun batang bambu seperti jembatan di atas sungai—dalam bahasa Sunda disebut paranggong. Lebar paranggong pertama hanya 90 cm dan panjang 5 meter sesuai lebar sungai. “Dulu modal hanya Rp150.000 untuk membuat satu paranggong. Satu paranggong membutuhkan tiga batang bambu. Pengerjaannya gotong-royong dengan warga,” papar Wawan. Kini 20 paranggong terpasang di atas Sungai Cilimus. Lebarnya beragam dari 90 cm sampai 4 meter. “Warga semangat bertanam. Semua berebut ingin mengelola lahan,” kata Wawan. Saat ini ada 25 kepala keluarga yang mengelola paranggong seluas 300 m2

Belajar hidroponik

Di wilayah kami terdapat 300 kepala keluarga. Mereka memiliki tanaman di halaman rumah masing-masing.”  Kesuksesan RW 04 dalam mengembangkan pertanian perkotaan salah satunya karena semangat warga dalam berinovasi. Menurut warga setempat, Kusdiana, masyarakat kompak dan ingin terus belajar hal baru dalam pertanian perkotaan. Contohnya, belajar hidroponik berbagai sistem. “Pada 2013 kami membuat hidroponik sistem sumbu. Kini kami mencoba berbagai sistem, seperti tower, nutrient film technique (NFT), dan dutch bucket ,” katanya.  Setidaknya 5 kit hidroponik berbagai sistem terpasang di RW 04 Kelurahan Pajajaran. Mereka menanam aneka jenis sayuran, seperti selada, pakcoy, caisim, dan buternut squash. Selain hidroponik, Kusdiana dan rekan-rekan karang taruna setempat juga mengembangkan cabai hias. Mereka mengembangkan 7—10 jenis cabai hias dan menjual benihnya. Alumnus Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bandung, itu menambahkan permintaan cabai hias tertinggi adalah jenis carolina reaper, trinidad scorpion, dan big black mama. “Kami menjual benih cabai hias dengan harga Rp. 4vfrg2.000 per biji,” kata Kusdiana. Percontohan Menurut praktikus pertanian di Kota Bandung, Jawa Barat, Charlie Tjendapati, kegiatan warga RW 04 Kelurahan Pajajaran menjadi contoh pemanfaatan lahan sempit dan marginal menjadi produktif.  “Pemanfaatan lahan di atas sungai tanpa mengganggu ekosistem sungai dapat dijadikan contoh. Meski lokasi berkebun di perkotaan, tapi tanaman tumbuh dengan baik,” kata Charlie.

Menurut Kepala Dinas Pangan dan Pertanian, Kota Bandung, Jawa Barat, Elly Wasliah, kegiatan warga RW 04 Kelurahan Pajajaran sangat membanggakan. Itu menjadi bukti bahwa warga menjalankan progam pertanian perkotaan yang digalakkan pada 2013 dengan baik. “Di Kota Bandung ada 755 RW yang mengikuti program kegiatan pertanian perkotaan. Namun, RW 04 Kelurahan Pajajaran yang perkembangannya sangat pesat sehingga bisa menjadi contoh RW lain dalam kegiatan pertanian perkotaan,” katanya.Elly mengatakan, hingga saat ini Dinas  Pangan dan Pertanian terus melakukan pembinaan. “Tujuannya agar tercapai pemenuhan pangan keluarga, penghijauan, dan bisa menjadi penghasilan tambahan warga,” kata Elly. Bagaimana agar warga tertarik aktif dalam kegiatan pertanian perkotaan? Menurut Wawan hal yang harus dilakukan adalah komunikasi yang baik dengan warga, memberi contoh dengan aksi, dan rela sedikit berkorban harta untuk kemajuan bersama. (Muhamad Fajar Ramadhan)

.